Rabu, 14 Juli 2010

kontroversi bola jabulani

BOLA tendangan striker Amerika Serikat Clint Dempsey meluncur deras ke arah Robert Green. Kiper timnas Inggris ini berniat menangkapnya, tapi apa daya bola malah memantul dan bergulir ke arah gawangnya. Green merangkak dan meregangkan tangan berupaya menggapai bola itu. Tapi aksinya itu sia-sia karena bola keburu melewati garis gawang yang dijaganya. Skor berubah, 1-1.

Gol itu membuat ambisi Inggris untuk memetik poin penuh di laga perdana, buyar. Green pun dihujat habis-habisan. Tak cuma Green yang dikecam. Pelatih Inggris Fabio Capello juga kebagian makian suporter Three Lions. Sejak awal publik -- dan pecinta -- Inggris mempertanyakan alasan pelatih Fabio Capello menempatkan kiper West Ham United itu sebagai penjaga gawang utama. Green dianggap minim pengalaman di level internasional.

Tapi ada pula yang membela Green. Mereka yang membela, menuding blunder fatal yang berujung gol itu bukan sepenuhnya tanggung jawab Green. “Biang kekonyolan yang dilakukan Green adalah Jabulani,” kata Tim Howard, penjaga gawang Amerika Serikat.

Jabulani -- berasal dari kata bahasa Zulu yang berarti merayakan -- adalah bola resmi yang digunakan di Piala Dunia kali ini. Bola itu bikinan produsen olahraga adidas. Adidas mengklaim Jabulani memiliki teknologi bola paling canggih saat ini. Jika bola umumnya dibuat dengan 32 panel, Jabulani hanya menggunakan delapan panel saja. Jumlah panel yang sedikit membuat Jabulani diklaim bergerak lebih stabil dan konsisten ketimbang bola lain.

Bukan hanya secara teknologi yang membuat Jabulani istimewa. Bahan yang digunakan pun tidak sembarangan. Bahan yang dipakai sebagai lapisan luar adalah plastic polyurethane -- yang mudah dibentuk tiga dimensi -- sementara di dalamnya adalah busa karet dan busa plastik. Permukaan Jabulani juga memiliki bintik-bintik kecil yang digunakan untuk membelah air saat permainan berlangsung di tengah turunnya hujan.

Toh, meski diklaim stabil dan konsisten, kenyataannya malah berbeda. Pergerakan bola itu susah dikontrol dan liar. Apa yang terjadi pada Green adalah salah satu buktinya. Contoh lain bisa dilihat dalam laga Slovenia kontra Aljazair di Grup C. Di menit ke-79, penyerang Slovenia, Robert melepaskan tembakan ke arah kiper Faouzi Chaouci. Sang kiper sebenarnya mampu membaca arah bola. Namun entah kenapa, bola kemudian memantul melewati kedua tangan Chaousi dan masuk ke dalam gawang.

Blunder yang dilakukan Green dan Chaouci seolah menjustifikasi buruknya performa Jabulani. Maklum, sebelum turnamen akbar ini digelar, para penjaga gawang sudah ramai-ramai mengeluhkan kemapuan bola itu.

“Pergerakan bola di udara bisa berubah arah tiba tiba, sehingga menyulitkan kiper. Bola ini ini benar-benar tidak memadai. Saya pikir memalukan bila kompetisi penting seperti Piala Dunia harus menggunakan bola seperti itu," ujar kiper Italia Gianluigi Buffon.

“Bola itu seperti sebuah bencana," kata kiper Perancis, Hugo Lloris, tentang Jabulani. Kiper Brasil, Julio Cesar, menyebut Jabulani sebagai bola kelas pasar. Kiper Spanyol, Iker Casillas, meledek bola ini persis seperti bola pantai. Sedangkan kata "menakutkan" dipakai kiper inggris, David James. Kiper Uruguay, Fernando Muslera, menyebutnya sebagai "yang terburuk yang pernah saya gunakan".

Keluhan terhadap si kulit bundar yang khusus diciptakan untuk Piala Dunia 2010 ini tak hanya dilontarkan para penjaga gawang. Penyerang Brasil, Julio Baptista, menilai bola itu tak menguntungkan kiper maupun penyerang karena kerap bergerak ke arah yang tak terduga. Robinho, juga penyerang Brasil, Penyerang Brasil, Robinho, menilai bola itu dibikin oleh orang yang tak pernah bermain bola. Penyerang Italia, Giampaolo Pazzini, melukiskan bola itu kerap bergerak lebih liar dan susah dikontrol. "Anda melompat untuk menyundul bola sebuah umpan silang dan tiba-tiba bola bergerak, dan Anda pun luput," katanya.

Keluhan serupa juga dilontarkan Lionel Messi. "Bola sangat sulit bagi para penjaga gawang dan juga kami (pemain). Saya berharap kami terbiasa menggunakannya karena kami tidak memiliki pilihan," tambah Messi dalam sebuah wawancara di University of Pretoria, kamp Argentina beberapa waktu lalu. Bek Serbia, Nemanja Vidic yang menyebut Jabulani merepotkan pemain di semua posisi. “Orang sudah menyatakan pendapat mereka mengenai (Jabulani). Aku sendiri akan mengatakan bahwa bola ini menyulitkan pemain depan dan para bek. Yang bisa kukatakan adalah bahwa hal itu berlaku untuk semua orang," tambahnya.

Pelatih Belanda, Bert van Marwijk, juga mengeluhkan kualitas bola ini. Ia mengatakan timnya piawai mencetak gol dari tendangan bebas. Sayangnya, hal itu musykil terjadi akibat buruknya kualitas bola resmi Piala Dunia 2010 atau Jabulani. Setali tiga uang, pelatih tim Samba Carlos Dunga juga mengkritik performa Jabulani.

Meski dikecam sana-sini, desainer bola Jabulani, Dr Andy Harland menolak disalahkan. “Itu hanya karena para pemain belum terbiasa menggunakannya," tegasnya seperti dikutip Soccernet.

"Saya menjamin tidak ada masalah dengan bola tersebut," tambah Harland. "Kami sudah melakukan riset bertahun-tahun untuk membuat bola Jabulani. Karena memiliki panel lebih sedikit dari bola lain, Jabulani merupakan bola yang paling stabil," tegasnya.

Kecaman itu juga tak mengubah sikap asosiasi sepak bola paling tinggi, FIFA untuk menggantikan Jabulani dengan bola lain. Menurut Kepala Humas FIFA Nicolas Maingot FIFA telah mengesahkan bola tersebut dengan uji coba yang ketat.

“Lagi pula sejak bola itu digunakan pada partai uji coba, Februari lalu, tidak pernah ada keluhan dari para tim yang berlaga. Saya rasa tidak ada masalah dengan Jabulani,” kata Maingot.

Lepas dari segala kontroversi itu, yang jelas di era Jabulani ini miskin gol. Sejauh ini baru tercipta 25 gol di putaran pertama penyisihan grup. Jumlah gol ini merupakan yang terendah di antara turnamen Piala Dunia sebelumnya. Pada 1998, jumlah gol di putaran pertama ada 39 biji. Pada 2002 ada 46 gol dan di Piala Dunia empat tahun lalu tercipta 37 gol.

Catatan lainnya, kecuali duel Jerman-Australia dan Brasil-Korea Utara, setiap pertandingan di turnamen kali ini tak pernah menghasilkan lebih dari dua gol. Di Piala Dunia 1992 dan 2002, tujuh pertandingan berakhir dengan lebih dari sepasang gol. Pada 2006, ada delapan laga berakhir lebih dari dua gol di putaran pertama.

Di putaran pertama ini ada sembilan laga yang berakhir tanpa gol hingga turun minum, termasuk duel tim-tim besar seperti Spanyol, Brasil, dan Belanda. Bandingkanlah catatan ini dengan dua laga tanpa gol hingga istirahat pada putaran pertama penyisihan grup di Piala Dunia 2006 Jerman.

Selain itu, sampai putaran pertama berakhir, belum ada gol yang lahir dari tendangan bebas. Lalu, cuma ada dua gol yang berawal dari tendangan di luar kotak penalti. Dua-duanya berawal dari tendangan spekulasi dan berujung pada blunder kiper saat menangkap bola Jabulani. Gol itu adalah gol Clint Dempsey ke gawang Inggris dan gol Robert Koren ke gawang Aljazair.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar